Kamis, 12 Agustus 2010

Selasa, 10 Agustus 2010

SAMBAS 2010 BKM AL-KHUWARIZMI USU 2010

Assalamualaikum wr. Wb..

Alhamdulillah...mungkin kataitu yang akhi/ukhti ucapkan setelah selesai OSPEK dan Malam Keakraban. Tapi seklai lagi alhamdulillah karena selain disambut dengan OSPEK dan Malam Keakraban kehadiran akhi/ukhti di USU disambut juga dengan Hadirnya Bulan Ramadhan 1431 H. subhanallah semoga kita menjadi umat-umat terbaik dan mendapatkan yang terbaik pula dari Allah SWT.

SAMBAS 2010...apa itu? mungkin tanda tanya besar bagi akhi/ukhti... ya SAMBAS adalah SAMBUT MAHASISWA BARU MUSLIM Tahun 2010 merupakan sambutan bagi mahasiswa baru yang beragama Islam oleh Badan Kenaziran Mushalla Al-Khuwarizmi Departemen Ilmu Komputer FMIPA USU. Memang dahulu nama SAMBAS adalah PMBM ( Penyambutan Mahasiswa Baru Muslim), SAMBAS meruapakan kegiatan pengenalan BKM dan sosialisasi Mentoring Mata Kulia Agama Islam bagi mahasiswa baru wajib mengikuti SAMBAS dan Mentoring.

Kegiatan ini terdiri dari Tausyiah oleh Ustad kondang dan selayang pandang tentang BKM Al-Khuwarizmi dari ketua umu BKM periode 2010. Acaranya pasti seru lo... pastikan akhi/ukhti mengikuti kegiatan ini. selain itu juga akan dibentuk panitia Buka Puasa Bersama Mahasiswa Muslim Departemen Ilmu Komputer Tahun 1431 H. Buka Puasa ini meruapakan acara tahunan oleh BKM Al-Khuwarimzi untuk mahasiswa baru. Sekali lagi akhi/ukhti juga harus ikutan dan menjadi panitia ya...

ada info penting juga nih... sehubungan adanya DAKWAH EXPO 3 tahun 2010, akhi ukhti diwajibkan juga mengikuti DAKWAH EXPO 3 yang diadakan oleh LDK UKMI Ad-Dakwah USU. Tahun lalu Salim Afilah Ustad sekaligus Penulis Buku, kejutan dan siapa ya yang di undang tahun ini... pastinya seru dan dat menambah relasi juga, karena pesertanya mahasiswa baru se kawasan USU...sekalian buka puasa bersama bareng mahasiswa baru.

Semoga Allah meridhoi dan menerima amal baik kita...

Wasalamualaikum Wr.Wb
Bidang PA BKM Al-Khuwarizmi USU

Minggu, 01 Agustus 2010

Persiapan Menyambut Ramadhan Secara Maksimal

Persiapan Menyambut Ramadhan Secara Maksimal


Hudzaifah.org - Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

Persiapan Mental
Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan. Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

Persiapan ruhiyah (spiritual)
Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).

Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.

Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)
Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11). Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).

Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)

Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah
Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)
Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah. []


Sumber : Panduan Ibadah Ramadhan, Iman Santoso, Lc.

Pro & Kontra Ramadhan Fair ke VII 2010


Pro & Kontra Ramadhan Fair ke VII 2010

Pemerintah Kota (Pemko) Medan kembali akan menggelar kegiatan Ramadhan Fair di kawasan Masjid Raya Medan pada 14 Agustus 2010 dan akan berakhir pada 10 September 2010 mendatang. Kegiatan Ramadhan Fair yang digelar tahun 2010 ini merupakan kegiatan Ramadhan Fair ke VII.

Untuk pelaksanaan Ramadhan Fair tahun 2010 yang mengalokasikan anggaran Rp 2,5 miliar ini, Dinas Pariwisata Kota Medan berencana akan menonjolkan nuansa religi yang lebih tinggi. Sehingga diharapkan dalam perhelatan tahunan tersebut masyarakat muslim Kota Medan akan dimanjakan dengan Festival Budaya Islami.

Kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan ini kabarnya akan lebih difokuskan pada kegiatan yang menggugah keimanan, dan diharapkan kehadirannya jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Dalam kegiatan tersebut direncanakan akan mengelar lima festival, salah satunya festival band remaja.

Namun sayangnya, kegiatan Ramadhan Fair tahun 2010 ini mulai mengundang pro dan kontra. Pasalnya, kegiatan yang menyedot APBD Medan miliaran rupiah ini dinilai sejumlah pihak tidak bermanfaat, sekaligus membuang anggaran. Disamping itu juga agenda tahunan ini dinilai mengganggu kekhusukan pelaksanakan ibadah.

Ketua DPRD Medan Ikrimah Hamidy misalnya, beranggapan Ramadhan Fair menjadi ajang korupsi oleh sejumlah oknum pejabat Pemo Medan. Karena itu, ia mengusulkan agar pelaksanaan Ramadhan Fair sebaiknya dirubah, tidak tersentralisasi, atau lebih baik dilaksanakan menyebar di setiap kecamatan.

Pelaksanaan Ramadhan Fair, katanya, akan lebih menyentuh jika dilakukan secara menyebar, dimana pihak kecamatan ikut berperan dalam pelaksanaannya dengan turun ke masjid-masjid. Begitu pula model pelaksanaan Ramadhan Fair jangan dilaksanakan dengan gebyar-gebyar, melainkan harus menyentuh nilai religius.

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Jhon Tafbu Ritonga, menilai pelaksanaan Ramadhan Fair yang akan dimulai dari awal hingga akhir bulan puasa hanya akan membuat untung artis ibukota dari pada pedagang yang berjualan di arena tersebut. Jhon Tafbu juga menyayangkan adanya peran event organizer (EO) dari luar Medan untuk menggarap proyek Ramadhan Fair ini. Seharusnya, pengerjaan proyek Ramadhan Fair dapat dikerjakan oleh orang-orang Medan sendiri, tanpa campur tangan dari pihak dari luar kota Medan.

Terlepas dari pro dan kontra dari sejumlah pihak terhadap penyelenggaraan Ramadhan Fair tahun 2010 ini, mungkin tak ada salahnya kita pun harus mendengar apresiasi masyarakat Kota Medan sendiri. Benarkah masyarakat di kota ini, khususnya umat Muslim merasa tak perlu diadakan Ramadhan Fair tersebut?

Jawabnya, bisa iya, tapi bisa juga tidak. Sebab, sebagaimana kita ketahui, selama ini setiap dilangsungkannya Ramadhan Fair, pengunjung yang datang selalu padat dan ramai. Bukan hanya ketika waktu berbuka puasa, tapi juga setelah selesai acara berbuka puasa hingga saat sahur.

Artinya, masyarakat sepertinya menikmati kegiatan Ramadhan Fair ini. Di antaranya ada yang memang untuk beribadah, ada untuk bersilaturrahmi dengan mengajak keluarga dan teman-teman berbuka puasa dan sahur bersama, atau juga ada yang datang ingin menikmati hiburan dengan keadiran artis ibukota yang menampilkan lagu-lagu bernuansa Islami.

Dengan demikian, mungkin kita lebih sepakat jika pelaksanaan Ramadhan Fair ke VII masih perlu dilaksanakan. Yang perlu diatasi adalah perilaku korupsi dari kegiatan tersebut dan oknum-oknum yang melakukannya.(Kardopa.co.id)

Jumat, 30 Juli 2010

Profil

Profil BKM AL-KHUWARIZMI USU sebagai Lembaga Dakwah Departemen dijelaskan dalam poin-poin berikut

1. Al ‘Aqidah
aqidah islamiyah dan nilai-nilainya menjadi sumber petunjuk dan pengarah.
2. Pembinaan )
BKM Al-Khuwarizmi bertujuan membina anggotanya secara ruhi ( mental ) , fikri ( pemikiran ) , ilmi ( ilmu ), ijtima’i ( sosial ) dan jasadi ( fisik ) sebagai batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat Islam.
3.Asy Syuuro ( musyawarah )
Syuro yang mengikat dan demokrasi adalah sarana yang benar dalam pengambilan keputusan.
4. Al Akhlaaq
Anggota BKM Al-Khuwarizmi harus beramal secara komitmen dengan akhlak dan perilaku yang lurus.

Sejarah

BKM AL-KHUWARIMZI berdiri dan terbentuk dari kegiatan-kegiatan mahasiswa muslim sejak Program Studi S1 Ilmu Komputer di buka pada tahun akademik 2002-2003. Kala itu mahasiswa melakukan diskusi dan forum-forum pembahasan dan kajian keislaman yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi muslim karena dirasa perlu melakukan kajian di lingkungan kampus. Sebagian aktivis kampus saat itu hanya kegiatan akademik dan belum ada kegiatan keislaman seperti yang terjadi di kampus lain.

Beranjak dari kegiatan tersebut kemudian melakukan kajian secara rutin untuk meningkatkan ukhuwah islamisah sesama mahasiswa muslim Program Studi S1 Ilmu Komputer sebagai pendukung kegiatan kuliah. Hal lain yang mendukung kagiatan ini adalah adanya mushalla Al-Khuwarizmi yang saat itu belum ada yang mengelola dan memanfaatkan untuk kegiatan mahasiswa muslim untuk mengekspresikan keislamannya di dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus Porgram Studi S1 Ilmu Komputer.

Upaya pertama yang dijalankan para mahasiswa muslim adalah dengan mengadakan berbagai forum diskusi dan kajian islam dan pengajian kecil di lingkungan Program Studi, yang paling aktif dengan peserta kegiatan ini adalah kalangan angkatan 02 dan 03 . Komunikasi antar aktivis Departemen menghasilkan kader yang mendapat kesepatakan untuk menerapkan ilmu dan pengalaman yang didapat dari departemen dan Unit Kegiatan Mahasiswa Islam Pusat USU untuk membuat kegiatan keislaman di kampus. Dibentuklah panitia Buka Puasa Bersama. Kegiatan ini sukses dan menjadi tonggak baru kegiatan keislaman di Departemen Ilmu Komputer.

Akhirnya sejarah terukir. Musyawarah Besar ke-I dilaksanakan di Kampus departemen Ilmu Komputer pada 29-30 Agustus 2006. Proses pengesahan AD/ ART berjalan sangat lancar, termasuk pemilihan nama BKM AL-KHUWARIZMI. Pada tanggal 25 Maret 2005, BKM AL-KHUWARIZMI berdiri bersama pekik takbir yang membahana. Esok paginya perangkat BKM AL-KHUWARIZMI angkatan pertama terbentuk.

SEJARAH KETUA UMUM BKM AL-KHUWARIZMI USU

1. Hamdani, S.Kom 2005-2006

2. Yunandar Arif Oktavianto, S.Kom 2006-2007

3. Hery Wibowo, S.Kom 2007-2008

4. Muhammah Iqbal 2009

5. Muhammad hanafi 2010

Visi Misi

Visi BKM AL-KHUWARIZMI 2005
"Sebagai wadah pembetukan pribadi muslim yang tangguh untuk mewujudkan masyarakat kampus yang Islami sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Rasul."

Misi BKM AL-KHUWARIZMI FMIPA USU

1. Dakwah islamiyah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 104 yang artinya “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”, dan

2. Usaha-usaha persaudaraan sesama muslim dalam Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 10 yang artinya “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Jargon BKM AL-KHUWARIZMI FMIPA USU
“Bersama Dalam Silaturrhami, Bersatu Dalam Dakwah”

Peran BKM AL-KHUWARIZMI FMIPA USU

1. Wadah peningkatan Ukhuwah dan silaturrahim antar mahasiswa muslim Departemen Ilmu Komputer FMIPA USU.

2. Pusat pengembangan dakwah Islamiyah, khususnya di lingkungan akademik Departemen Ilmu Komputer FMIPAUSU.

3. Peningkatan sumber daya manusia dan budaya mahasiswa muslim yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman di lingkungan akademik Departemen Ilmu Komputer FMIPA USU.

Sejarah

BKM (Badan Kenadziran Mushlla) Al-Khuwarizmi Departemen Ilmu Komputer Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, didirikan pada hari Jum’at, 25 Maret 2005 Masehi Atu bertepatan 14 Safar 1426 Hijriyah. Awal mulanya, BKM didirikan yaitu dari kegiatan forum diskusi mahasiswa muslim S1 Ilmu Komputer FMIPA USU sebagai peserta dengan tujuan agar dapat menumbuhkan kader-kader untuk kepengurusan BKM.

Khalifah yang pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum BKM Al-Khuwarizmi :

Periode I Masa Jabatan 2005-2006

Hamdani (’03)

Periode II Masa Jabatan 2006-2007

Yunandar Arif Oktavianto (‘03’)

Periode III Masa Jabatan 2007- 2008

Hery Wibowo (‘05’)

Periode IV Masa Jabatan 2009

Muhammad Iqbal (‘07’)

Periode V Masa Jabatan 2010

Muhammad Hanafi(‘07’)




BKM AL-KHUWARIMZI berdiri dan terbentuk dari kegiatan-kegiatan mahasiswa muslim sejak Program Studi S1 Ilmu Komputer di buka pada tahun akademik 2002-2003. Kala itu mahasiswa melakukan diskusi dan forum-forum pembahasan dan kajian keislaman yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi muslim karena dirasa perlu melakukan kajian di lingkungan kampus. Sebagian aktivis kampus saat itu hanya kegiatan akademik dan belum ada kegiatan keislaman seperti yang terjadi di kampus lain.

Beranjak dari kegiatan tersebut kemudian melakukan kajian secara rutin untuk meningkatkan ukhuwah islamisah sesama mahasiswa muslim Program Studi S1 Ilmu Komputer sebagai pendukung kegiatan kuliah. Hal lain yang mendukung kagiatan ini adalah adanya mushalla Al-Khuwarizmi yang saat itu belum ada yang mengelola dan memanfaatkan untuk kegiatan mahasiswa muslim untuk mengekspresikan keislamannya di dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus Porgram Studi S1 Ilmu Komputer.

Upaya pertama yang dijalankan para mahasiswa muslim adalah dengan mengadakan berbagai forum diskusi dan kajian islam dan pengajian kecil di lingkungan Program Studi, yang paling aktif dengan peserta kegiatan ini adalah kalangan angkatan 02 dan 03 . Komunikasi antar aktivis Departemen menghasilkan kader yang mendapat kesepatakan untuk menerapkan ilmu dan pengalaman yang didapat dari departemen dan Unit Kegiatan Mahasiswa Islam Pusat USU untuk membuat kegiatan keislaman di kampus. Dibentuklah panitia Buka Puasa Bersama. Kegiatan ini sukses dan menjadi tonggak baru kegiatan keislaman di Departemen Ilmu Komputer.
Akhirnya sejarah terukir. Musyawarah Besar ke-I dilaksanakan di Kampus departemen Ilmu Komputer pada 29-30 Agustus 2006. Proses pengesahan AD/ ART berjalan sangat lancar, termasuk pemilihan nama BKM AL-KHUWARIZMI. Pada tanggal 25 Maret 2005, BKM AL-KHUWARIZMI berdiri bersama pekik takbir yang membahana. Esok paginya perangkat BKM AL-KHUWARIZMI angkatan pertama terbentuk.

SEJARAH KEPALA GAMAIS ITB

1. Hamdani, S.Kom 2005-2006

2. Yunandar Arif Oktavianto, S.Kom 2006-2007

3. Hery Wibowo, S.Kom 2007-2008

4. Muhammah Iqbal 2009

5. Muhammad hanafi 2010