Senin, 14 April 2014

Sejuk Edisi 19

AKU KORBAN APA PELAKU ?

Teringat akan sesuatu hal yang akan menggemparkan kampus kita. Pasti semuanya pada tahu. Ya apalagi selain UTS. Ah masih lama kok. Eits.. tunggu dulu ini tanggal berapa ya? H-4 UTS??. Kapan belajarnya?. Hayo masik ada yang disimpan gak?. Belajar dong.. belajar. Apa? Kedengarannya ada yang mau nyontek nih. Aduh masakan nyontek sih? Hukumnya dosa besar loh. Ini nih penjelasan dosanya. Cekidot…

Menyontek jelas sebuah kecurangan. Menyontek, dalam berbagai bentuknya, jelas merupakan “musuh utama kesuksesan”. Ia bisa saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tapi ada juga yang berani di depan banyak pasang mata. Ia bisa melibatkan orang per orang, atau bisa juga melibatkan sekelompok orang yang berkomplot.Na’udzubillahi min dzaalik.

Ayo kita awali dari beberapa contoh bentuk menyontek :
1. Memindahkan informasi contekan dari sumber lain (kertas kecil, buku, dsb) ke lembar jawaban.
2. Memberi bantuan jawaban pada teman.
3. Pengawasnya beri bantuan.
4. Soal ujian bocor sebelum waktunya.
5. Sekelompok orang mengancam atau marah-marah pada pengawas, agar membiarkan pelanggaran menyontek terjadi (astaghfirullah)

            Para penyontek itu, tentu saja punya alasan untuk membenarkan pelanggaran menyonteknya. Seperti juga kaum kafir beralasan macam-macam menentang para rasul. Entah dengan mengatakan mereka tukang sihir, sekadar mencari pengikut, bahkan mengatainya gila. Hati-hati, mungkin kamu bisa tertulari wabah menyontek ini. Alasan-alasan yang disebarkan oleh mereka yang menyontek ini memang kedengarannya masuk akal. Tapi, kalau mau kita renungkan benar-benar, ternyata hanya omong kosong belaka. INI CONTOH ALASANNYA :

1. Menyontek untuk mempertahankan posisi/prestasi. Karena ia beranggapan bahwa semua juga menyontek, daripada ia kalah nilai/rankingnya, ia pun ikut menyontek. Wah, itu jelas salah! Syaithon terkutuk memang pintar merayu manusia untuk menganggap benar apa yang seharusnya salah. Ada 100 lelaki, 99 diantaranya pacaran, sedangkan yang satu tidak. mana yang dianggap aneh? Betul, yang 1 orang. Tapi mana yang dianggap benar di pandangan Allah ? Wah, kamu benar sekali. Jelas yang 1 orang itu. Karena ia menjaga diri dari perbuatan (yang mendekati) zina. Yang 99 orang walaupun mayoritas, tetap saja berdosa di mata Allah. Maka pertanyaannya, siapakah yang besok menguasai pengadilan hari akhirat? Siapa yang kan memutuskan seseorang itu salah atau benar?

2. Alasan ‘membantu’ karena pelajar/mahasiswa/peserta ujian kewalahan. Wah, ini namanya penjerumusan! Entah yang memberi ‘bantuan’ itu sesama peserta, pengawas, panitia, atau pihak lain (kadang ada yang berani menentang Allah dengan menjadi joki ujian! dikiranya Allah gak melihat?) Membantu apa ? ketika seseorang memberi contekan pada peserta ujian, maka ia sedang menghancurkan masa depan dunianya dan (pasti!) akhiratnya. Kerugian pertama, ia belajar mematikan potensi diri sebenarnya dari peserta ujian tersebut (termasuk otaknya yang punya kemampuan luar biasa!) dengan tidak memakainya secara benar dan optimal! kerugian kedua, ia sedang terlibat proses tipu menipu yang telah jelas statusnya : berdosa. “siapa yang menipu kami maka ia bukan termasuk golongan kami;pembuat makar dan tipu daya akan masuk neraka”.(H.r. Thabrani dan Ibnu Majah). Kerugian yang ketiga, ia menjadi ‘tempat bergantung’ orang dalam perbuatan menentang Allah. Apakah ia mau menjadi fir’aun selanjutnya? Apa yang akan ia katakan kalau besok Allah ‘Azza wa jalla menanyainya saat ia berhadapan langsung di hari Perhitungan kelak ?

3. Ungkapan kasih sayang, begitu kata mereka yang memberikan atau mengusahakan contekan. ” Saya membantu mereka karena saya sayang mereka”. Stop! Kasih sayang apa itu? Kasih sayang apa yang menjerumuskan orang yang dikatakannya “saya sayangi” ke dalam pedihnya kebodohan dunia dan keabadian api neraka? Itu jelas bukan kasih sayang. Itu hanyalah angan-angan orang yang salah menempatkan arti ‘kasih sayang’. Apakah kita akan meminumkan pada teman kita racun walaupun ia teramat kehausan ?

COBALAH AMATI APA YANG TERJADI PADA PARA PENYONTEK ITU.AMATILAH PENGARUHNYA PADA MEREKA DAN UMAT MANUSIA!

1. Lahirnya sosok pecundang di masyarakat, orang-orang yang tidak berkompeten di bidangnya. Berapa banyak pasien yang meninggal gara-gara dokter-dokter penipu? Berapa banyak bangunan yang roboh karena insinyur-insinyur penipu? Berapa banyak transaksi dagang serta barang dagangan yang rusak karena para pengusaha yang menipu?

2. Kamu bisa bayangkan berapa banyak yang sakit hati gara-gara usahanya yang jujur dan sungguh-sungguh dikalahkan oleh mereka yang ‘berhasil’ karena menyontek ?

3. Banyak posis penting yang diduduki oleh orang yang tidak mampu. Padahal, mereka menempati posisi-posisi strategis yang mengurusi kepentingan banyak orang. Akibatnya, banyak penyelewengan dan banyak ketidakberesan. Ya wajar, karena mereka memang tidak menguasai ilmunya. Lebih dari itu, mereka telah belajar untuk hidup ‘normal’ dengan norma-norma yang tidak benar. Menyontek telah mengajarkan mereka untuk menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginan mereka. Ah, padahal kalau mereka tahu apa yang sedang menantinya di akhirat sana…Panasnya api neraka yang membara, yang MENYELIMUTI dari atas dan bawah, dari kanan dan kiri, dari depan dan belakang..! terbakar gosong menghitam, luar dalam! Sungguh sangat mengerikan akhir mereka yang membangkang perintah Tuhan!

Hadis tentang menyontek :
Dari Abu hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang membawa senjata guna memusuhi kami maka ia bukan golongan kami; dan siapa menipu kami maka bukanlah golongan kami” (H.r. Muslim)

Rasulullah Saw melarang semua penipuan, termasuk di dalamnya menyontek (satu di antara perilaku menipu) dalam ujian.
Bagaimana pandangan ahli fiqih mengenai menyontek dalam ujian?
Para ahli fiqih telah sepakat akan haramnya menipu, karena ada unsur pengkhianatan terhadap suatu amanah, pembohongan, tipu daya, dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. Semua itu termasuk dalam kategori dosa-dosa besar. Coba simak beberapa penjelasan berikut ini :

1. Penyontek dianggap mengelabui dan menipu pengajar/panitia ujian, karena mencampurkan antara yang hak dengan yang batil, dan memberikan bentuk ketidakjujuran ilmiah.

2. Seorang penyontek telah melanggar hak-hak peserta ujian lainnya yang telah berusaha dengan segenap kemampuannya sendiri. karena terkadang si penyontek bisa mengungguli peserta lain yang jujur, amanah, dan rajin.

3. Syaikh abdul hamid Kish berpendapat bahwasanya nilai keberhasilan dan tugas jabatan yang semata-mata diperoleh dengan menyontek dianggap HARAM hukumnya. Karena, ia mencuri informasi dan mengaku-ngaku bahwa itu murni miliknya, meskipun ia memperoleh ijazah yang memang sudah layak miliknya, namun tetap saja bathil. Dan karena apa yang ditegakkan atas dasar kebatilan, itu termasuk hal yang batil.

4. Seorang yang menyontek dianggap mengkhianati amanah ilmu, karena ia mengajukan kepada pengajar/panitia ujian suatu bentuk informasi (jawaban ujian) yang diakuinya sebagai hasil usahanya sendiri, padahal kenyataannya bukan. Sangat mungkin terjadi, mentalitas menyontek ini akan terbawa hingga ke kehidupannya di masyarakat luas. Hukum ini (mengkhianati amanah) juga berlaku untuk guru/dosen serta setiap pihak yang terlibat dalam proses terjadinya menyontek.


Wah, berarti, dari yang menyontek, yang memberi contekan, yang mengizinkan menyontek, yang membiarkan menyontek terjadi (padahal ia punya wewenang mencegahnya), dan semua pihak lain yang terlibat dalam pencontekan, semuanya akan berdosa. Jadi masih mau di bilang penipu? . Ayo dong tobat. Hanya beberapa hari lagi menuju kesadaran itu. Ayo bersihkan UTS kali ini ini dari kata mencontek. Mari semuanya berteriak NYONTEK? SIAPA YA GAK KENAL TUH.

Tidak ada komentar: